Petani Milenial (bagian 1)

“Kerja di Desa, Rezeki Kota, Bisnis Mendunia.”

Seru sekali membaca tagline provinsi Jawa Barat ini. Kerja di desa itu adem, tak ada polusi, ke mana-mana mudah. Apa lagi kalau meraup rezeki seperti orang-orang kota, para eksekutif muda yang kabarnya jutaan rupiah. Ditambah lagi akses bisnisnya sampai ke luar negeri, ke Eropa atau Amerika.

Kerja seperti ini bisa ditebak, pasti berkaitan dengan potensi desa. Desa-desa agraris di negara tropis yang masih memiliki lahan luas. Lahan panen untuk tanaman padi yang paling membutuhkan lahan luas di Indonesia seluas 10,4 juta hektar. Itu artinya lahan yang produktif.

Yang paling luas ada di 3 provinsi di Jawa, Jabar, Jateng dan Jatim. Ketianya sama rata. Jabar seluas 1,66 juta hektar. Bedanya dengan dua provinsi lain, jumlah luas lahan di Jabar bertambah dari tahun ke tahun. Tahun 2020 seluas 1,58 juta hektar, tahun 2021 bertambah jadi 1,6 juta hektar. Ini menandakan niat memberdayakan industri pertanian kian tinggi.

Hasilnya bisa ditebak, Jabar produksi padi di Jabar naik. Sementara Jatim dan Jateng menurun. Jabar boleh disebut kembali sebagai provinsi lumbung padi.

Seiring sejalan generasi baru menggantikan para seniornya di persawahan. Mereka anak muda generasi milenial yang memiliki komitmen tinggi pada dunia pertanian. Petani milenial namanya.

Petani milenial diberi tempat dan disekolahkan. Seperti pemuda Tasik bernama Dadan Ridwan.

Terminologi petani milenial tidak hanya petani padi. Tetapi mencakup bidang dan cabang-cabang pertanian lain seperti perkebunan, peternakan, perikanan, maupun kehutanan. Intinya di komoditi agrikultur.

Dadan adalah pekebun di Kersamenak, Kawalu. Komoditi yang ia kelola antara lain buah melon, cabai, tomat, terong dan lain-lain. Ia mengaku kemampuannya memang bertani. Untuk memperkaya kemampuannya itu ia lantas magang ke Jepang, negeri teknologi sekaligus juga negara pertanian.

Setahun belajar praktek nyata, ia pulang. Tak cuma cara dan teknologi bercocoktanam ia pelajari. Ia paham bahwa mengelola pertanian itu harus berbasis industri. Artinya ada berbagai aspek yang harus ia pelajari dan jalani.

Umpamanya bekerja bersama mitra, mengelola keuangan, belajar supply chain, meningkatkan daya ekspor, dan banyak sekali. Yang bahkan tidak dipelajari oleh orang-orang kota.

Petani milenial berbeda dengan petani zaman dulu. Pemprov Jabar bahkan turun tangan mendukung proses bisnis yang dijalani millennial farmers ini.

Di Garut setidaknya ada 1.200-an petani milenial. Di Tasikmalaya ada 200-an lebih. Di luar produk komoditas pertanian lain untuk padi di Garut dan Tasik memungkinkan untuk tumbuh. Luas panen pada 2022 saja di Garut 75,9 hektar, Tasik 81,3 hektar dan Kota Tasik 9,7 hektar. Kota Tasik yang terluas lahan panen padinya dibanding wilayah berstatus kota lainnya di Jawa Barat.

Produk pertanian (termasuk peternakan, perikanan, dll) menembus ke kota dan luar negeri. Di dalam negeri, di kota-kota titik akhir rantai pasokan tidak hanya sampai di pasar. Kini muncul toko-toko khusus produk basah. Malah kesadaran masyarakat untuk hidup sehat membangkitkan keinginan membeli produk organik.

Produk pertanian tentu tak harus menyuplai pasar biasa (retail). Tetapi juga pasar industri pengolahan dan pemroses makanan (business). Dengan kata lain pasar komoditas agrikultur itu luas.

Hanya kita terlalu sering terbujuk oleh dunia kota yang manis. Padahal pengeluaran hidup mereka juga tinggi. Di desa kita bisa bekerja dan mengais rezeki lebih tenang. (*)

*) Narasi berikutnya silakan ikuti tentang kiat-kiat berbisnis menjadi petani milenial

Salam Solidaritas!

Imam Fatoni Effendi

Foto: suarapemerintah.id  

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*