Mengenang Muhammad

Nabi Muhammad SAW tak pernah merayakan hari ulang tahunnya sendiri dengan pesta atau sekadar makan-makan. Rasul malah rutin melaksanakan puasa.

Puasa adalah wujud dari ketaatannya kepada Allah SWT. Jadi ketika Maulid tiba, Rasulullah justru ingin menunjukkan hal itu. Sebab yang beliau lakukan adalah pengenangan pada proses bagaimana Allah menciptakan manusia.

Maka mengenang hari Maulid Nabi Muhammad seperti hari ini ada dua hal penting yang dapat kita pelajari. Pertama adalah mengenang Rasul itu sendiri sebagai sosok yang membuka dan membawa Islam sesuai dengan petunjuk Allah.

Membawa Islam ada dan benar hingga akhir zaman tidak mudah. Karena itu Rasul bersama sahabat kemudian menyiapkan segala petunjuk itu dalam rupa Al-Quran dan hadits. Lalu apakah dua kunci ini cukup membawa umat sesuai dengan ajaran yang ada di dalamnya?

Rupanya tidak. Justru ketika di saat-saat Rasul menjelang meninggal, ketakutannya sekaligus kesedihannya yang paling dalam adalah tentang umatnya. Perjalanan waktu, pergantian generasi, Islam yang berkembang dan menyebar membawa pada harapan-harapn Rasul. Kendati memang ada satu-dua yang mengingkari  kebenaran yang selalu dibawa Rasul.

Mengingat dan mengenang Muhammad sebenarnya kita lakukan setiap hari. Tetapi Maulid memacu kita untuk mengenali lebih dalam sifat dan keistimewaan Rasulullah. Karena itu mengapa Maulid Nabi Muhammad itu ditetapkan sebagai hari keagamaan.

Inilah makna kedua, yang sekaligus cara menjawab ketakutan dan kesedihan Rasul. Sidik, amanah, tabligh, fathonah. Ini sifat beliau. Jujur, dapat dipercaya, selalu menyampaikan kebenaran dan pandai pun cerdas. Semuanya saling terkait, tidak berdiri-sendiri.

Itu adalah sifat utama Rasul. Masih banyak lagi sifat-sifat lain yang memadukannya hingga Muhammad adalah gambaran sejatinya umat manusia. Misalnya rendah hati (tawadhu atau humble), adil, murah hati, sabar dan penyayang, dan masih berderet lagi sifat baik. Kemudian menyatukannya menjadi manusia berakhlak mulia.

Ahlak dan kebaikannya itu juga menyebar ke ahlul bait di lingkungan keluarga, tetangga, sahabat, komunitas, dan umat di seluruh dunia.

Kita merindukan Rasul. Kita merindukan orang-orang berahlak seperti Rasul. Termasuk kepada diri kita sendiri. Kepada para pemimpin-pemimpin dan wakil rakyat kita.

Maka arti Maulid Nabi Muhammad adalah tentang keahlakan. Saban tahun kita diingatkan tentang ahlak dan contoh-contohnya pada sifat dan sikab Rasulullah.(*)

Salam Solidaritas!

Imam Fatoni Effendi

Foto: bhs   

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*